Home » » Menjawab Note " Amos O Baja ", Kelahiran dan Masa Kecil Nabi Muhammad

Menjawab Note " Amos O Baja ", Kelahiran dan Masa Kecil Nabi Muhammad

Written By Admin On Jumat, 16 Agustus 2013 | 03.04


Jawaban untuk note Amos:

http://www.facebook.com/notes/amos-o-baja/kelahiran-dan-masa-kecil-muhammad-saw/131284270314522

Aminah Binti Wahhab:’
(Bahasa Arab: آمنة بنت وهب) adalah ibu yang melahirkan Nabi Muhammad Sholallohu 'alaihi wasalam.
Seorang wanita berhati mulia, pemimpin para ibu. Seorang ibu yang telah menganugerahkan anak tunggal yang mulia pembawa risalah yang lurus dan kekal, rasul yang bijak, pembawa hidayah. Dialah Aminah binti Wahab. Ibu dari Nabi kita Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam)yang diutus ALLAH sebagai rahmat seluruh alam. Cukuplah baginya kemuliaan dan kebanggaan yang tidak dapat dimungkiri, bahwa ALLAH Azza Wa Jalla memilihnya sebagai ibu seorang rasul mulia dan nabi yang terakhir.

Berkatalah Baginda Nabi Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) tentang nasabnya.
“ALLAH telah memilih aku dari Kinanah, dan memilih Kinanah dari suku Quraisy bangsa Arab. Aku berasal dari keturunan orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik.”
Dengarlah sabdanya lagi, “Allah memindahkan aku dari sulbi-sulbi yang baik ke rahim-rahim yang suci secara terpilih dan terdidik. Tiadalah bercabang dua, melainkan aku di bahagian yang terbaik.”
Bunda Aminah bukan cuma ibu seorang rasul atau nabi, tetapi juga wanita pengukir sejarah. Kerana risalah yang dibawa putera tunggalnya sempurna, benar dan kekal sepanjang zaman. Suatu risalah yang bermaslahat bagi ummat manusia. Berkatalah Ibnu Ishaq tentang Bunda Aminah binti Wahab ini. “Pada waktu itu ia merupakan gadis yang termulia nasab dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy.”

Menurut penilaian Dr. Bint Syaati tentang Aminah ibunda Nabi Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) yaitu. “Masa kecilnya dimulai dari lingkungan paling mulia, dan asal keturunannya pun paling baik. Ia (Aminah) memiliki kebaikan nasab dan ketinggian asal keturunan yang dibanggakan dalam masyarakat aristokrasi (bangsawan) yang sangat membanggakan kemuliaan nenek moyang dan keturunannya.”

Aminah binti Wahab merupakan bunga yang indah di kalangan Quraisy serta menjadi puteri dari pemimpin bani Zuhrah. Pergaulannya senantiasa dalam penjagaan dan tertutup dari pandangan mata. Terlindung dari pergaulan bebas sehingga sukar untuk dapat mengetahui jelas penampilannya atau gambaran fizikalnya. Para sejarawan hampir tidak mengetahui kehidupannya kecuali sebagai gadis Quraisy yang paling mulia nasab dan kedudukannya di kalangan Quraisy.
Meski tersembunyi, baunya yang harum semerbak keluar dari rumah bani Zuhrah dan menyebar ke segala penjuru Makkah. Bau harumnya membangkitkan harapan mulia dalam jiwa para pemudanya yang menjauhi wanita-wanita lain yang terpandang dan dibicarakan orang.

Kelahiran
Kurang lebih enam setengah abad setelah kenabian Isa putra Maryam, di Tanah Hijaz (Mekkah), tepatnya pada qabilah Quraisy, lahirlah bayi perempuan nan cantik, tepatnya dari Bani Zuhrah. Bayi mungil itu kemudian diberi nama Aminah, putri Wahab seorang bangsawan Quraisy yang berkedudukan tinggi di antara kaumnya.

Ayah Aminah adalah pemimpin Bani Zuhrah, yang bernama Wahab bin Abdulmanaf bin Zuhrah bin Kilab.
Sedangkan ibu Aminah adalah Barrah binti Abdul-Uzza bin Usman bin Abduddar bin Qushay.
Nenek moyang Aminah adalah orang-orang yang memiliki kemuliaan yang belum pernah dimiliki oleh qabilah lain. Mereka adalah orang-orang suci yang bersih dari perbuatan tercela dan tidak pernah tergoda kehormatannya.
Oleh karena kesucian dan kemulian yang dimiliki nenek moyangnya itulah, maka Rasulullah dengan bangga pernah menyatakan dalam sabdanya :

“… Dan selanjutnya Allah memindahkan aku dari tulang sulbi yang baik kedalam rahim yanng suci, jernih dan terpelihara. Tiap tulang sulbi itu bercabang menjadi dua, aku berada di dalam yang terbaik di antara keduanya.” (Hadist Syarif).

Pernikahan Aminah
Setelah menginjak dewasa, Aminah berkembang menjadi gadis yang amat cantik, melebihi kecantikan gadis-gadis Makkah pada saat itu. Melihat anak gadisnya telah beranjak dewasa, ayahnya segera mencarikan jodoh untuknya. Akhirnya yang paling cocok dan dianggap sekufu dengan Aminah adalah keponakannya sendiri, yaitu Abdullah bin Abdul Muthalib. Abdullah adalah anak ke 10 dari Abdul Muthalib hasil perkawinannya dengan Fathimah binti ‘Amr al-Makhzumy dari Bani Makhzum. Bani Makhzum merupakan tulang punggung kekuatan qabilah Quraisy.
Abdullāh bin Syaibah atau lebih dikenal dengan Abdullah bin Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: عبدالله بن عبد المطلب‎)‎ (545-570)
Sedangkan Abdul Muthalib adalah seorang tokoh Quraisy yang mendapat kehormatan lebih dari kaumnya, dan keagungannya diakui oleh penduduk Quraisy. Ia sangat disegani oleh semua lapisan masyarakat Makkah pada waktu itu karena sikapnya yang bijaksana.
Banyak orang mengatakan bahwa Aminah dan Abdullah itu sangat sekufu dan serasi bila dijodohkan. Yang wanitanya cantik sedangkan prianya tampan.

JAWABAN TENTANG NAMA ROSULULLOH (KHOTAM)

Setelah Abdul Mutholib mendengar berita kelahiran cucunya, beliau menamainya dgn nama MUHAMMAD walaupun nama ini tidak umum di kalangan orang arab tapi cukup di kenal

inilah nama-nama Rosululloh:
(Nama-nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)
Beliau memiliki beberapa nama, di antaranya:
  1. Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam).
  2. Ahmad.
  3. Al-Mahi, yang maknanya: Allah menghapus kekafiran melalui beliau.
  4. Al-Hasyir, yang maknanya: manusia dikumpulkan di bawah telapak kaki beliau.
  5. Al-’Aqib, yang maknanya: tiada lagi nama setelah beliau.
  6. Raufur rahiim.
  7. Al-Muqaffi.
  8. Nabiyyut taubah.
  9. Nabiyur rahmah.
(Sumber: Shahih Al-Bukhari, hadits no. 3532; Shahih Muslim, hadits no. 2354, 2355)

ALASAN ORANG ARAB MEMBIARKAN ANAKNYA DI ASUH BADUY

Alasan orang arab membiarkan anak-anaknya di sususi dan di urus orang baduy adalah karena udara bersih dan makanan sehat juga kehidupan keras yg akan membuat anak-anaknya kuat dan cepat besar, berbeda dgn kehidupan kota dgn keramaian dan kehidupan mapan serba siap ada yg akan memperlambat pertumbuhan fisik dan otak.

Dan penyusuan Thueibah terhadap Muhammad bukan sesuatu yg aneh dan menarik perhatian di karenakan Thueibah telam menyusui sebelum itu Hamzah bin Abdul Mutholib dan Aba Salamah bin Abdul Asad Al mahzumi, dan Abu Lahab yg nama asinya adalah Abdul Ubbah bin Abdul Muthallib juga adalah paman Muhammad yg sangat cinta dan suka dgn keponakanya, tapi dakwah Islam Muhammadlah yg menjadi cinta berbalik benci .
Jadi tidak ada hubunganya dgn psikologi Aminah, karena kakek Muhammad (Abdul Mutholib) masih belum meninggal dan ia adalah bapak Hamzah yg di susui oleh Thueibah juga, Berarti ibu hamzah bukan janda dan tidak tertimpa perubahan kimia dalam otak untuk tidak menyusui anaknya.

UNTUK JAWABAN TULISAN INI YG SANGAT JAUH DARI KEBENARAN
Muhammad tumbuh diantara orang2 asing. Sewaktu dia besar, dia sadar bahwa dirinya bukanlah anggota keluarga yang mengurusnya. Dia semestinya heran mengapa ibunya, yang hanya mengunjunginya dua kali setahun, tidak menginginkannya.

Halima adalah wanita yang menyusui Muhammad. Enam puluh tahun berikutnya terungkap bahwa awalnya Halimah tidak mau mengurus Muhammad karena dia anak yatim dari janda miskin. Tapi akhirnya Halimah mau mengurus Muhammad karena dia tidak mendapatkan anak dari keluarga kaya, dan keluarganya sendiri sangat butuh uang meskipun sedikit sekalipun. Apakah ini tampak pada cara Halimah mengurus bayi itu? Apakah Muhammad merasa tidak dikasihi di keluarga angkatnya selama tahun2 awal penting yang menentukan sifat seseorang?

Halima melaporkan bahwa Muhammad adalah anak yang penyendiri. Dia suka hidup dalam dunia khayalannya sendiri dan bercakap-cakap dengan teman2 khayalannya yang tidak bisa dilihat orang lain. Apakah ini reaki dari anak yang tidak dikasihi di dunia nyata sehingga dia menciptakan khayalannya sendiri untuk menghibur dirinya dan merasa dikasihi?
_______________________________________________________________
Kasih sayang Halimah Sa'diyah kepada Muhammad sama dengan kasih sayang yang diberikan kepada anak-anaknya sendiri, bahkan Muhammad lebih dicintai.

Untuk menghilangkan rasa rindu Aminah kepada anaknya beliau sering berkunjung ke rumah Halimah Sa'diyah. Begitu Halimah Sa'diyah setiap kali berkunjung ke Makkah tak lupa membawa Muihammad.

Muhammad di kembalikan pada Aminah setelah berumur 2 tahun dan setelah terurus dgn PENUH KASIH SAYANG, bukan hanya oleh ibu bapak asuhnya tapi saudara se susunya( anak-anak halimah) terutama yg bernama SYAIMA.

Alasan kembalinya Muhammad di asuh Halimah adalah:

افتقاد حليمة للرسول :
افتقدت حليمة للرسول حينما عاد لمكة فافتقدت حليمة بركته، وأصابها من اللوعة والشوق إليه .

سبب آخر لعودة حليمة به :
قدم جماعة من نصارى الحبشة إلى الحجاز فوقع نظرهم على محمد rفي بني سعد ووجدوا فيه جميع العلائم المذكورة في الكتب السماوية للنبي الذي سيأتي بعد عيسى عليه السلام؛ ولهذا عزموا على أخذه غيلة إلى بلادهم لما عرفوا أن له شأناً عظيما؛ً لينالوا شرف احتضانه وذهبوا بفخره.

-1 karena Halimah merasa rindu dan kehilangan Muhammad
-2 Telah datang Rombongan dari Nashoro Habsyiah(Ethofia) dan telah melihat Muhammad di bani Sa'ad dgn alamat kenabian setelah Isa 'alaihi salam yg berada dalam injil dan Taurat, maka dari itu mereka ingin membawa kenegaranya untuk mendapat kehormatan kunjungan Muhammad calon nabi.

MENGENAI JAWABAN KESEHATAN MENTAL DAN SUKA BERKHAYAL, INILAH ARGUMENT ANTARA AMINAH DAN HALIMAH

( setelah Aminah tahu sendiri atas kasih sayang dan keikhlasan Halimah pada putranya)
Setelah kejadian datangnya Malaikat yg membelah dadanya, Halimah khawatir dan membawanya pulang ke Mekah.
Aminah bertanya kepada Halimah, “Wahai pengasuh, apa yang membuatmu membawanya kembali? Padahal dulu kamu sangat ingin agar anakku ini tetap tinggal bersamamu?” 
“Allah telah mendewasakan anakku, aku pun telah menjalankan kewajibanku. Aku khawatir terjadi hal-hal yang buruk kepadanya, maka aku kembalikan dia kepadamu sebagaimana yang kamu inginkan,” jawab Halimah.
Ia berniat tidak akan mengatakan apa alasan sebenarnya yang merubah pikirannya. Namun, perubahan itu terjadi terlalu tiba-tiba dan Aminah tidak bisa mereka bohongi.
Setelah mendengarnya, Aminah berkata, “Jangan khawatir dengan anakku. Demi Allah, dia memiliki suatu kehebatan.” Dia lalu menceritakan peristiwa ketika ia mengandung, ada secercah cahaya memancar dari dalam tubuhnya. Halimah kembali tenang, tetapi sejak saat itu Aminah memutuskan untuk mengasuh sendiri putranya. “Tinggalkan ia bersamaku,” katanya, “Dan pulanglah dengan tenang.”
___________________________________________________________________

Dua tahun lagi anak itu tinggal  di  sahara,  menikmati  udara pedalaman  yang  jernih  dan bebas, tidak terikat oleh sesuatu ikatan jiwa, juga tidak oleh ikatan materi.

Pada masa itu, sebelum usianya mencapai  tiga tahun, ketika itulah  terjadi  cerita  yang banyak dikisahkan orang. Yakni, bahwa sementara  ia  dengan  saudaranya  yang  sebaya itu sedang berada di belakang rumah di luar pengawasan keluarganya, tiba-tiba anak Keluarga Sa'ad itu kembali pulang sambil berlari, dan berkata kepada ibu-bapaknya, "Saudaraku yang dari Quraisy itu telah diambil oleh dua orang laki-laki  berbaju putih. Dia dibaringkan, perutnya dibedah, sambil di balik-balikkan."

Dan tentang Halimah ini ada juga diceritakan. Halimah berkata, "Lalu saya pergi dengan ayahnya (suaminya) ke tempat itu. Kami jumpai dia sedang berdiri.  Mukanya pucat-pasi. Kuperhatikan dia. demikian juga ayahnya. Lalu kami tanyakan, 'Kenapa kau, Nak?' Dia menjawab, 'Aku didatangi oleh dua orang laki-laki berpakaian putih. Aku dibaringkan, lalu perutku dibedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Tak tahu aku apa yang mereka cari."

Halimah dan suaminya kembali pulang ke rumah. Orang itu sangat ketakutan, kalau-kalau anak itu kesurupan. Sesudah  itu, dibawanya  anak  itu  kembali  kepada  ibunya  di Makkah.

Atas peristiwa ini Ibnu Ishaq membawa sebuah hadits Nabi sesudah kenabiannya. Tetapi dalam menceritakan peristiwa ini Ibnu Ishaq nampaknya  hati-hati  sekali  dan   mengatakan bahwa sebab dikembalikannya kepada ibunya bukan karena cerita adanya dua malaikat itu, melainkan—seperti cerita Halimah kepada Aminah—ketika  ia di bawa pulang oleh Halimah sesudah disapih, ada beberapa orang Nasrani Abisinia  memerhatikan Muhammad  dan menanyakan kepada Halimah tentang anak itu.

Dilihatnya belakang anak itu, lalu mereka berkata, "Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami di  negeri  kami. Anak  ini  akan menjadi orang penting. Kamilah yang mengetahui keadaannya."

Halimah lalu cepat-cepat menghindarkan diri  dari mereka  dengan  membawa  anak  itu.

Baik kaum orientalis, missionaris maupun beberapa kalangan kaum Muslimin sendiri tidak merasa puas dengan cerita dua malaikat  ini  dan menganggap sumber  itu lemah  sekali.  Yang  melihat  kedua laki-laki (malaikat) dalam cerita penulis-penulis sejarah  itu hanya  anak-anak  yang  baru  dua tahun lebih sedikit umurnya. Begitu juga umur Muhammad waktu itu.

Akan tetapi sumber-sumber itu   sependapat   bahwa  Muhammad  tinggal  di  tengah-tengah Keluarga Sa'ad itu sampai mencapai usia lima  tahun.  Andaikata peristiwa  itu  terjadi  ketika ia berusia dua setengah tahun, dan ketika itu Halimah dan  suaminya  mengembalikannya kepada ibunya, tentulah terdapat kontradiksi dalam dua sumber cerita itu yang tak dapat diterima. Oleh karena itu, beberapa  penulis berpendapat,  bahwa ia kembali dengan Halimah itu untuk ketiga kalinya.

Dalam hal ini, Sir William Muir tidak  mau  menyebutkan  cerita tentang  dua  orang  berbaju putih itu, dan hanya menyebutkan, bahwa kalau Halimah dan suaminya sudah menyadari adanya suatu gangguan  pada anak itu, maka mungkin saja itu adalah suatu gangguan krisis urat-saraf. Dan kalau hal itu tidak sampai mengganggu  kesehatannya  ialah karena bentuk tubuhnya yang baik.

Barangkali yang lain pun  akan mengatakan, baginya  tidak diperlukan  lagi  akan  ada  yang harus membelah perut atau dadanya. Sebab sejak dilahirkan, Tuhan sudah  mempersiapkannya supaya menjalankan risalah-Nya. Dermenghem berpendapat, cerita ini tidak mempunyai dasar kecuali dari yang diketahui orang dari teks ayat  yang berbunyi, "Bukankah sudah Kami lapangkan dadamu? Dan sudah Kami lepaskan beban dari kau? Yang telah memberati punggungmu?" (QS Al-Insyirah: 1-3).

Apa  yang  telah  diisyaratkan  Qur'an  itu  adalah dalam arti rohani semata, yang maksudnya ialah membersihkan  (menyucikan) dan  mencuci  hati  yang akan menerima Risalah Kudus, kemudian meneruskannya seikhlas-ikhlasnya,  dengan  menanggung  segala beban karena Risalah yang berat itu.

Dengan  demikian  apa  yang  diminta  oleh kaum orientalis dan pemikir-pemikir Muslim dalam hal ini ialah bahwa peri hidup Muhammad adalah sifatnya manusia semata-mata dan bersifat perikemanusiaan yang luhur. Dan untuk memperkuat  kenabiannya  itu memang  tidak  perlu  ia harus bersandar kepada apa yang biasa dilakukan oleh  mereka  yang  suka  kepada  yang  ajaib-ajaib.

Dengan  demikian,  mereka  beralasan  sekali  menolak tanggapan penulis-penulis Arab dan kaum Muslimin tentang peri hidup Nabi yang  tidak  masuk akal itu. Mereka berpendapat bahwa apa yang dikemukakan itu tidak sejalan dengan apa  yang  diminta  oleh Al-Qur'an supaya   merenungkan   ciptaan   Tuhan,   dan   bahwa undang-undang Tuhan takkan ada yang berubah-ubah. Tidak sesuai dengan  ekspresi  Qur'an  tentang  kaum Musyrik yang tidak mau mendalami dan tidak mau mengerti juga.

 Sumber:

http://www.al-eman.com/library/book/book-display.htm?id=54&indexId=54781&showContent=true

http://sh.rewayat2.com/sirah_shmael3/Web/3465/001.htm


-------------------------------------------------------------------------------------------------
Mengenai kasus Rasulullah menziarahi kubur ibunya, disebutkan dalam satu hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, yang artinya sebagai berikut:

“Nabi Muhammad s.a.w. menziarahi kubur ibunya. Beliau menangis, dan menangis pula orang-orang di sekelilingnya. Kemudian, Nabi berkata: Saya meminta izin kepada Tuhanku (Allah) supaya diperkenankan memohonkan doa ampunan untuk ibuku. Permohonanku itu tidak diizinkan. Kemudian aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, dan diizinkan. Berziarahlah kamu, agar kamu teringat kepada kematian.” (riwayat Ahmad dan Muslim).


BUKAN KARENA BENCI KEPADA IBUNYA TETAPI INILAH ALASANYA: 
http://www.voa-islam.com/islamia/konsultasi-agama/2011/02/17/13367/status-ayah-dan-ibu-rasulullah-muslim-atau-kafir/

Dan untuk jawaban Rosulullah tidak melakukan apa-apa pada masa mudanya, inilah yg beliau lakukan
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/05/11/ll0ss5-sejarah-hidup-muhammad-saw-pemilik-gelar-alamin

DAN PERDAMAIAN KAUM QURAISY ADALAH SIKAP BIJAK YG TAKKAN BISA DI LAKUKAN BAIK ITU NATO ATAU PBB SEKALIPUN.

ISLAM TIDAK MEMBUTUHKAN SIAPA PUN UNTUK MEMBUKTIKAN KEBENARANYA, WALAUPUN ABU THOLIB TIDAK MASUK ISLAM, KINI ISLAM TERBUKTI BENAR DAN DI BENARKAN TIMUR DAN BARAT, SELATAN UTARA, TAPI KEINGINAN ROSULULLOH DARI PAMANYA UNTUK MASUK ISLAM ADALAH SEBAGAI KASIH SAYANGNYA AGAR PAMANYA SELAMAT DARI API NERAKA.

DARI FITNAHAN DI ATAS TIDAK SATU PUN YG MEMBENARKAN MUHAMMAD STRESS, BELUM PERNAH ADA ORANG STRESS MEMPENGARUHI DUNIA

 
Share this article :

0 comments :

Jika anda menyertakan link dalam komentar,baik itu link hidup maupun link biasa,maka admin akan menghapus komentar anda..

Terima Kasih.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Hanina Syahidah - All Rights Reserved
Template Modif by Adam Pramuja Published by Raa Pramuja